\ 4 Alasan Kenapa Kita Nggak Perlu Nyinyirin Anak Kota yang Suka Heran Lihat Alam Terbuka~

4 Alasan Kenapa Kita Nggak Perlu Nyinyirin Anak Kota yang Suka Heran Lihat Alam Terbuka~

nyinyirin-anak-kota nyinyirin-anak-kota

Pernah nggak sih kamu dengar istilah “kampungan”? Sering, kan? Ya, istilah ini biasanya digunakan untuk mengolok-olok entah itu bercanda atau serius keala siapa pun, terpilihnya bagi orang kampung yang dianggap norak saat melihat hal baru. Tapi jarang, kan, kamu dengar ada istilah “kotaan”? Bahkan nyaris nggak suah, karena mungkin yang dianggap layak untuk olok-olokan, ya, istilah kampungan itu tadi.

Tapi rupanya, saat ini penuh juga lo orang-orang kota yang akhirnya dapat ejekan balik sama orang-orang kampung. Kasusnya pun sama, sama-sama dianggap norak saat melihat hal yang mungkin baru pertama kali dilihatnya. Nah, biar nggak perlu ada debat lagi, ini dasar kenapa kita nggak perlu nyinyirin anak kota yang gumunan atau suka heran tiap liat alam bebas.

1. Penerimaan setiap orang beda-beda, mungkin bagi mereka wah banget, bagi kita udah biasa aja

Kamu perlu peduli bahwa penerimaan setiap orang dengan berbagai latar belakang itu bertidak sebanding-tidak sebanding banget. Bisa jadi menurut kita itu adalah hal yang biasa aja, wajar, dan nggak perlu diagam-agamkan, tapi menurut orang lain hal tersebut adalah hal baru yang menarik banget. Begitu bertolak belakang dengan kita, tapi  mau gimana lagi, lha wong bagi mereka itu memang menarik kok. Nggak ada menyimpangnya, kan? Ibarat kamu lagi jatuh cinta, menurutmu orang yang kamu sukai ya oke banget, tapi bagi orang lain biasa aja, bahkan nggak ada menarik-menariknya sebanding sekali. Sah-sah aja kok~

2. Mungkin kita sebagai anak kampung, kalau dibawa ke kota agung yang banyak gedung luhurnya juga bakal kaget dan terheran-heran kayak gitu

Sama halnya dengan kita yang bilang kalau hal tersebut norak, berasa kayak nggak pernah lihat pohon-pohonan. Tapi kalau memang kenyataannya kayak gitu gimana? Orang-orang itu bangun tidur yang dilihat cuma gedung pencakar langit, asap kendaraan, Tertahan lama, jadi wajar aja kalau lihat pemandangan kayak gitu langsung takjub. Kita pun bagai anak kampung mungkin kalau dibawa ke kota hebat juga klop-klop gumunan, heran, kaget, pokoknya nggak kelainanlah kayak mereka. Makanya, nggak ada gunanya pada debat begitu, kita ini klop-klop kagetan. ????

3. Ya udah sih, bahagianya orang kan punya mereka sendiri. Biarin aja!

Setiap orang punya sumber bahagianya masing-masing. Orang kampung ada yang bahagia cukup dengan tinggal di kampung tanpa layak ke mana-mana, tapi ada juga yang bahagianya karena mereka bisa lihat kota adi. Begitu pula dengan orang kota, ada yang nyaman membesar di kota, tapi ada yang lebih bahagia kalau mereka bisa merasakan hujaunya perkampungan dan daerah-daerah terpencil. Nggak etis aja rasanya kalau kita mempermaalpakan bagaimana orang bisa merasa bahagia. Udah, nggak usah ikut campur deh~

4. Lha wong kadang orang desa mau nggak mau kalau cari duit juga ke kota, kan? Intinya nggak perlu lah debat maluput begituan~

Kalau dipikir-pikir, semua manusia saling ketergantungan. Udah wajar kalau orang kota butuh lihat yang seger-seger, dan orang kampung juga berlebihan yang berasal ke kota demi cari duit dan sesuap nasi. Saling ngerti aja lah maksudnya, nggak perlu pakai kata kampungan buat ejek-ejekan, nggak perlu ngeledekin orang kota pula kalau mereka kelihatan norak cuma karena lihat alam bebas. Intinya, nggak ada yang perlu didebatkan dari permamelencengan yang satu ini karena memang seperlunya jadi hal yang biasa-biasa aja.

Mulai sekarang, nggak usah salty kalau lihat orang kota gumunan tiap lihat alam bebas, buat orang kota juga nggak perlu pakai istilah kampungan buat ejek-ejekan lagi. Sama-kembar paham aja kalau kita semua ini juga pada gemar heran kalau lihat hal-hal baru yang mungkin kelihatannya wah banget. Dan ingat juga, wah buat orang bisa jadi cuma biasa aja buat kita, begitu juga sebaliknya, dan itu nggak ada celanya. Toh, semua ini cuma macela persepsi kok. ????