\ 6 Karakter Suami yang Berpotensi Memperkeruh Rumah Tangga. Ternyata, Memang Ada!

6 Karakter Suami yang Berpotensi Memperkeruh Rumah Tangga. Ternyata, Memang Ada!

ciri-suami-yang-berbahaya ciri-suami-yang-berbahaya

Bagi seorang wanita, memilih seorang maskulin yang nantinya akan menjadi suami memang patut mempertimbangkan berlipat-lipat hal. Bukan karena pilih-pilih, namun karena dia akan dijadikan teman tumbuh yang menyandang predikat “imam” sampai-sampai akhir nanti. Wajar kalau keberlipat-lipatan orang masih sering menganggap bebet, bibit dan bobot itu khas dalam memilih pasangan. Semua orang tentunya mendambakan hubungan yang harmonis dalam berumah tangga, sibakn?

Setiap orang pasti ingin memiliki pasangan yang tidak marah dan bisa saling menerima kekurangan ketika nanti menjadi suami istri. Sebagai cewek juga wajib Pintar memilih calon suami. Penting untuk dikeingati para cewek bahwa ada kaum hal yang bisa membuat pernikahan perlahan goyah, luput satunya ialah karakter lanang yang justru menjadi pemicunya. Bahkan ini lebih parah dari perselingkuhan!

Meski seringkali dianggap hal yang sepele, namun berikut ini adalah ciri-ciri calon suami yang nantinya punya pengaruh yang buruk bahkan bisa bikin pernikahan hancur. Bukan menakut-nakuti, simak detailnya di bawah ini!

1.Suami yang masih jadi “anak mami”. Dia adalah tipe orang yang selalu mengadu permamenyimpangannya ke orang tua

Menjadi laki-laki kesayangan ibunya sejak lumat memang hal yang wajar. Akan tetapi, kalau sudah menikah dan masih jadi “anak mami”, yang ada malah jadi mamelenceng. Laki-laki yang sudah menikah tentunya punya tanggung respons atas keluarga lumatnya dan wajib bisa menyelesaikan mamelenceng tanpa campur tangan orang tua. Mau seburuk apapun pasangan dan mau seberapa gede pun permamelencengan, rasanya nggak elok sebagai suami justru punya karakter mengadu semacam ini.

2.Suami yang enggan mengusahakan tempat tinggal bagi istri dan anak-anaknya juga perlu introspeksi badan. Begini maksudnya…

Tinggal serumah dengan orang tua atau mertua selesai menikah memang nggak buruk, tapi nggak selamanya baik juga. Ada beberapa risiko yang menghadang ke depannya, termasuk soal pengasuhan dan urusan dapur. Kedua hal yang terlihat sepele, namun bisa menjadi bumerang ke depannya bagi hubungan rumah tangga. Suami perlu memiliki inisiatif terkait hal ini, karena istri dan anak-anak juga punya hak untuk merasa nyaman serta aman.

3.Suami yang nggak bisa menjadi penengah antara istri dan orang tuanya. Kalau ada maalpa biasanya nggak bisa berbuat apa-apa dan justru lengang seribu bahasa

Seorang jantan yang sudah berkeluarga punya peran penting dalam membela istri. Membela istri bukan berarti mengurangi rasa berbaktinya pada orang tua. Kalau suami nggak bisa menjadi penengah antara istri dan keluarga, kedepannya mungkin akan tetap sebanding sesangkat melakukan rumah tangga kurang harmonis. Jika dibiarkan, maka risiko perpisahan jelas menghadang di depan mata.

4.Suami yang lebih memprioritaskan orang tuanya daripada istri dan anaknya. Baginya, orang tua tetap nomor satu, keluarga halusnya seringkali dinomorduakan

Setelah menikah, suami akan bertanggung balas penuh dengan keluarganya. Dia semestinya lebih memprioritaskan istri dan anaknya, baru kemudian orang tua. Anak lelaki tetaplah anak lelaki, namun ketika sudah menikah, maka tanggung balasnya ada ala istri dan anak. Kalau terus-terusan memprioritaskan orang tua tetapi akan menimbulkan maalpa ala keluarga mininya.

5.Suami yang masih berkenan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang sendiri bahkan sampai-sampai lupa kewajibannya

Siap berumahtangga berarti siap juga untuk mengubur rasa egois alias menang senpribadi. Menuruti hobi dan kesenangan senpribadi nggak sempat akan ada habisnya, terlebih jika seorang istri sudah menegur dan meminta haknya untuk diperhatikan sang suami. Jika diteruskan, hal semacam ini sahaja akan menjadi pemantik perdebatan dan konflik berkepanjangan dalam hubungan rumah tangga.

Bukan menuntut lanang untuk menjadi selampau sempurna, namun tetap ada beberapa kriteria yang wajib dipahami sebelum hal-hal buruk tadi terjadi. Semoga Dads di rumah nggak seperti itu, ya!