\ Kaleidoskop Patah Hati #6: Gara-gara Dilarang Apel ke Calon Mertua

Kaleidoskop Patah Hati #6: Gara-gara Dilarang Apel ke Calon Mertua

dilarang-apel-ke-calon-mertua dilarang-apel-ke-calon-mertua

*Disclaimer: Seacuhn berlintas dan sepertinya pandemi masih panjang. Tak cuma melahirkan perekonomian ambyar, pandemi nyaPerbincangan melahirkan kisah percintaan berlipat-lipat orang kandas di tengah jalan. Melihat fenomena putus pas pandemi, Hipwee mendengar dan merangkum kisah mereka yang patah hati. Semua cerita adalah riil. Tapi demi kenyamanan dan privasi, kami menyamarkan semua nama.

Hampir satu jam, Dina (umur 19 pedulin) berbaring sembari menggeser-geser layar ponsel. Menghela napas berjarak, ia mengunci ponsel usai membaca berita pandemi kian nggak terkendali. Waktu itu sekitar bulan April-Mei 2020, Dina masih ingat betul rasa khawatir sekaligus Resah berkecamuk dalam dadanya. Apalagi ia nggak bisa pergi dengan leluasa seperti biasa karena pos penjagaan dan pembatasan sosial ada di sekitar gang rumahnya.

“Mas, kamu jangan main ke rumah  dulu, ya!”


Dapatkan free access untuk pengguna baru!

Dina mengirim pesan kepada cowok yang dampil dan serius dengannya selama ini. Melihat kondisi masih belum aman karena virus Covid-19, ia  meminta pengertian sang pujaan hati yang biasa dipanggil Ali. Apalagi ibunya pun Cemas karena Ali sering bertandang ke rumah untuk menemui Dina. Lantaran di masa pandemi, Ali masih bepergian dari Ngawi ke Magelang untuk mendaftar sekolah angkatan.

Namun permintaan Dina malah dianggap Ali jadi penolakan. Padahal bukan itu maksud Dina. Ia hanya pengin Ali, ibunya, dan dirinya pulih dan aman. Nggak mau menerima penolakan Dina, Ali mulai menunjukkan sikap berselisih. Nggak bisa disangkal, perubahan sikap Ali melangsungkan Dina sedih dan kepikiran.

“Ibuku was-was soalnya Ali sering bepergian maksimal dan nggak rapid test. Udah gitu, Ali malah apel ke rumah,” ujar Dina sambil mengingat masa-masa sedih itu.

Berulang kali Dina mencoba menjelaskan pada Ali. Hanya saja, Ali tetap dengan pemikirannya kalau Dina dan ibunya nggak menerima keberadaannya. Semenjak itu, Dina merasa Ali semakin menjauh. Kondisi hubungannya makin memburuk. Perihnya, Dina mengemengertii kalau Ali diam-diam mengajak kencan cewek lain. Bukan cuma satu, kira-kira cewek pun diajak keluar.

Hati Dina semakin pedih. Padahal ia begitu memikirkan dan mengkhawatirkan Ali. Nyatanya sikap Dina yang dianggap penolakan oleh Ali dijadikan kesempatan untuk menjalin hubungan dengan cewek lain. Bahkan teman-teman mepet mangatakan Ali telah mengenalkan seorang cewek sebagai pacarnya. Mendengar kabar itu, perasaan Dina bertambah hancur.

Meskipun sudah kekenalan, Ali selampau menyangkal kalau pribadinya telah menjalin hubungan dengan orang lain. Nggak mau percaya lagi, Dina pun memutuskan hubungan. Ia meminta putus duluan karena nggak kekar lagi dengan sikap Ali. Walaupun Ali masih mencoba berasal ke rumahnya dan kenal mengutarakan tetap akan melamar, dia nggak mau peduli lagi.

Kini, Dina tinggal Yogyakarta. Meninggalkan Ngawi dan segala kenangan pahitnya tentang Ali, Dina mencoba menyembuhkan luka hati. Awal kepindahannya ke Yogyakarta, Dina masih berharap bisa balikan. Namun ia membulatkan tekad untuk tetap mengakhiri hubungan karena Ali justru semakin dempet dengan cewek lain.

Apa yang dialami Dina belakalah secuil kisah. Ada banyak kisah percintaan lain yang dipicu hal cocok di masa pandemi ini. Pembatasan fisik mau nggak mau memang bikin interaksi sosial secara langsung makin jarang. Dan fatalnya, hal semacam ini rentan bikin keliru paham. Kalau pasangan nggak bisa menemukan jalan untuk berkomunikasi dengan normal, akhirnya kata `putus` menjadi pilihan terakhir yang menyakitkan.

Kaleidoskop Patah Hati merupakan tulisan berseri Hipwee tentang perjalanan patah hati selama pandemi. Ikuti kisah-kisah patah hati lainnya melalui pranala berikut ini ya!