\ Ternyata, Mengucapkan ‘Tidak’ atau ‘Jangan’ ke Anak Itu Perlu. Simak Yuk Por

Ternyata, Mengucapkan ‘Tidak’ atau ‘Jangan’ ke Anak Itu Perlu. Simak Yuk Por

pentingnya-mengucapkan-kata-tidak-pada-anak-anak-generasi-tangguh-harus-dididik-secara-tegas-kan pentingnya-mengucapkan-kata-tidak-pada-anak-anak-generasi-tangguh-harus-dididik-secara-tegas-kan

Siapa bilang menikah, berkeluarga dan membina rumah tangga itu perkara mudah? Jangan luput, justru tantangan berjiwa berkeluarga mulai semakin berat lagi setelah kehadiran anak. Pasalnya, kita nggak lagi sekadar memikirkan perkara orang senorang dan pasangan, tapi juga kelangsungan berjiwa dan pola asuh si lumat.

Banyak informasi bertebaran, tentang nasihat untuk stop berkata ‘jangan’ atau ‘nggak’ kecukup anak. Padahal nih, sesekali mengatakan kedua kata ‘negatif’ itu sangat perlu lo! Kalau sampai kita sebagai calon orangtua bertekad untuk aub-matian menghindari kedua kata itu, siap-siap saja deh mencetak semakin deras generasi manja yang nggak pernah bisa puas. Eh, kok bisa begitu? Baca ulasannya Hipwee kali ini untuk paham perlawananannya.

Dilansir dari laman New York Times, mengatakan ‘nggak’ atau ‘jangan’ ke anak itu perlu dan berpengaruh. Lo, kok selisih ya dari apa yang dikatakan media lokal kita?

Berbeda dari pandangan yang kini kian marak di berbagai laman media sosial, berkata ‘jangan’ atau nggak pada anak sesekali bermanfaat dilakukan. Tanpa perlu repot mengganti kata ‘nggak atau ‘jangan’ dengan kalimat perbendaharaan lain, anak perlu melatih diri bahwa terkadang akan ada penolakan dalam tumbuh yang bermanfaat untuk dihadapi. Karena jika sedari dini, keinginan anak selalu dituruti, nggak pernah terucap kata nggak atau tidak bagi mereka, akan memicu rasa ketidakpuasan dalam awak yang akan melaksanakan mereka terus menuntut lebih.

Ya, mungkin bak orang tua kamu nggak tega ya menolak permintaan anak yang bakal meraung kalau nggak dituruti. Tapi kalau dituruti terus, anak nggak akan bisa melatih diri menghadapi tantangan hidup, nggak akan bisa lebih kreatif menyelesaikan maalpa dan nggak akan pernah puas karena selepas A dituruti, dia akan terus merongrong minta B, C, D, dan begitu seterusnya.

Pada awalnya, mungkin anak akan kesal dan menangis bahkan sampai mengamuk selama beberapa waktu. Tapi percayalah, seiring waktu anak akan terbiasa dan memetik hasilnya

Mengatakan ‘nggak’ atau ‘jangan’ atas anak akan melakukannya memberi respons negatif selama beberapa saat, namun percayalah seiring batas ia akan memahirkan bahwa dalam urip, keinginannya tidak akan bisa sedahulu terpenuhi. Dari sebuah tulisan esai menarik di The New York Times tentang memgedekan anak lebih saling menolong dengan kata ‘tidak’ akan membantu sang anak kelak menjadi pribadi yang lebih tangguh, mampu memecahkan macela dengan memanfaatkan apa yang sudah ia miliki.

Contohnya nih, saat si anak minta mainan B, yang mungkin bisa saja kamu para orangtua belikan. Tapi dengan menolaknya, dengan dalil mainan sang anak masih cukup dan belum butuh yang baru perlahan akan membuatnya mencari alternatif permainan lain, dari benda-benda di rumah yang sudah ada.

Lebih bijak lagi kalau kamu perkenalkan teknik daur ulang sederhana untuk membuat mainan alternatif untuk anak. Selain hemat, juga membantu merangsang imajinasi anak agar lebih berkembang.

Kata siapa bilang ‘nggak’ atau ‘jangan’ itu haram ke anak? Boleh banget kok, asal berikan penjelasannya yang jelas dan masuk akal

Alih-alih sibuk aub-matian putar otak mencari substitusi kalimat terhalus, terindah dan paling nyaman buat anak, sesekali mengatakan ‘nggak’ dengan jelas dan gamblang perlu kok. Nggak dosa saat kamu bilang ‘Jangan beli-beli mainan terus ya, Nak!’ atau ‘Adek, nggak boleh ganggu teman lain yaa!’ secara terus cahaya tanpa usaha berlebih untuk memperhalusnya. Tapi dengan catatan, katakan dengan jelas, dengan konsisten dan dengan penjelasan yang mampu dipahami anak.

Jangan anggap anakmu Bebal dengan berpikir ‘Ah, susah jelasinnya anak nggak bakalan ngerti!’. Di luar yang kamu duga, anak lebih cerdas dan seloyalnya sudah mampu menerima penjelasanmu. Saat melarang atau menolak, jelaskan dengan suka membantu dan konsisten dalih di balik penolakanmu.

Misalnya nih, saat anak main dengan temannya dan merebut mainan cela seorang temannya. Jangan serta merta dibentak dan dimarahi dengan ganas ya, Moms dan Dads! Cukup larang dengan tegas, dengan lugas dan apa adanya. Lalu jelaskan dengan lembut, bahwa yang dia lakukan itu cela, temannya bisa sedih dan hal yang dilakukannya itu nggak saling menolong. Percayalah, jika dilakukan dengan konsisten anak pasti bisa mengerti dan rasa empatinya justru bisa semakin terasah.

Nggak sembarang bilang nggak, orang tua perlu pahami triknya untuk berkata ‘nggak’ ke anak dan yang mampu memberikan dampak baik untuk perkembangannya

Bilang nggak memang saling menolong dan memberikan kedisiplinan yang kelak akan anak butuhkan. Tapi ingat untuk nggak sekemudian mengucapkannya terkemudian sering, sampai-sampai kata-kata itu hilang maknanya dan nggak lagi digubris sang anak. Pastikan kamu mengucapkan ‘nggak’ atau ‘jangan’ belaka pada saat sang anak butuh ketegasanmu. Contohnya nih, anakmu sudah maklum kamu pernah melarangnya main gawai seharian, dan kamu pernah bilang ‘nggak’ secara tegas. Kali ini coba ubah kalimatmu dengan kalimat lain seperti, ‘Nak, Mama maklum main gawai itu asyik. Tapi kalau keseringan, matamu bisa Kencang lelah dan perih. Coba main permainan lain yang lebih asyik, yuk. Nanti Mama ajarin permainan yang seru. Mau?’

Seringkali, sikap membangkang anak muncul saat dia sedang jenuh, sedang butuh perhatian atau saat dia merasa bahwa penolakan atau laranganmu kurang tegas. Pastikan kamu melakukannya dengan konsisten saja ya, Buibu dan Pakbapak!

Masih ingin menerapkan ‘Say No to No’ alias ogah bilang “nggak” ke anak dengan dalih ‘kasihan’ apalagi ‘nanti anak jadi makin pembangkang? Tenang, dengan porsi dan cara yang bijak, bilang ‘nggak’ justru akan kasih sejuta manfaat

Dilansir dari parents.com dan huffingtonpost.com, dengan secara konsisten berkata ‘nggak’ atau ‘jangan’ pada anak terhadap hal-hal yang bersifat prinsipil, seperti melarangnya main gawai kelewat sering, memukul adik atau meraung minta mainan di mal akan membantu anak tumbuh menjadi anak yang lebih tidak marah, lebih ulet, cerdas menghadapi kekecewaan, mengerti cara merangkai argumentasi yang tidak marah, mengerti cara memprioritaskan sesuatu, memahami batasan seimbang antara bermain dan bekerja di masa depan yang mungkin nggak akan didapatkan di sekolah.

Hal ini dimenyibakkan Susan Newman, PhD, pengarang buku The Book of NO: 250 Ways to Say It — and Mean It — and Stop People-Pleasing Forever yang juga merupakan seorang psikolog sosial melalui situs parents.com.

Jadi, jangan Waswas apalagi parno lagi ya untuk bilang ‘nggak’ ke anak. Demi kebergairahan mentalnya juga, lo. Nggak mau ‘kan anak-anak di masa depan jadi semakin benyai dan nggak bisa cari solusi mandiri?

Psikolog sosial,  Susan Newman, PhD juga mengungkapkan bahwa anak-anak yang mengerti kalau mereka nggak bisa selintas mendapatkan apa yang mereka inginkan akan cenderung lebih sukses di sekolah, dalam hubungan dan pergaulan serta perjalanan karier mereka.

Dengan sejuta kemudahan dan godaan di era serba digitalisasi seperti sekarang, memang merupakan tantangan tersenbadan bagi para orangtua zaman now untuk menerapkan disiplin ala anak, agar generasi mendatang singkapn jadi generasi yang nggak punya sopan santun, suka seenaknya senbadan dan manja. Nggak mau anakmu kelak jadi orang yang disebelin semua orang karena egois dan keras kepala sekadar lantaran di rumah semua keinginannya terpenuhi?

Yuk, jadi orang tua yang lebih bijak dan tegas saat mendidik anak. Bukan berarti patut kasar dan melakukan KDRT juga kok demi mencetak generasi unggul. Yang penting sikapmu konsisten dan selalu memberikan contoh tertidak marah. Apalagi saat anak berada dalam bahaya, nggak mungkin ‘kan kamu nggak bilang ‘nggak’ saat anak main pisau di dapur? Yang penting, melarang dan memberikan penjelasan adalah koentji!